Klasis Priangan GKI Sinode Wilayah Jawa Barat

Oleh: Pdt. Harianto Suryadi, M. Th.

Setelah mengetahui bahwa pembimbingnya, Chang Cong, sakit keras, Lao Tze mengunjunginya. Terlihat jelas bahwa Chang Cong mendekati akhir hidupnya.
“Guru, apakah Guru mempunyai kata-kata bijak terakhir untukku?” kata Lao Tze kepadanya
“Sekalipun kamu tidak bertanya , aku pasti mengatakan sesuatu kepadamu.” jawab Cang Cong.
“Apa itu”
“Kamu harus turun dari keretamu, bila kamu melewati kota kelahiranmu”
“Ya, Guru. Ini berarti orang tidak boleh melupakan asalnya”
Shuo Yuan (Abad 1 S.M)

Keberadaan Gereja Kristen Indonesia Wilayah Jawa Barat Klasis Priangan tidak terlepas dari sejarah misi terdahulu di Indonesia yang dikerjakan oleh Sending Belanda, orang Tionghoa Perantauan dan orang Tionghoa peranakan.

MISI DARI SENDING BELANDA

  • Sending Belanda adalah Sending yang dilakukan oleh Badan Pekabaran Injil Partikulir non gerejawi, yang didirikan oleh beberapa orang anggota gereja Hervomd di Belanda, Badan Pekabaran Injil ini tidak bekerja untuk dan atas nama gereja itu serta tidak bertanggung jawab kepada Gereja Hervomd.
  • Badan Misi tersebut adalah: Genootschap Voor In en Uitwendige (GIUZ) dan Nederlanche Zending Vereniging (NZV) dan tokoh-tokoh Pekabaran Injil Belanda.

GENOOTSCHAP VOOR IN EN UITWENDIGE(GIUZ)

  • Genootschap Voor In en Uitwendige (GIUZ) adalah perhimpunan Pekabaran Injil di dalam dan di luar Batavia, didirikan oleh orang-orang Kristen yang berminat terhadap kegiatan pekabaran Injil di Batavia (kini Jakarta) pada tahun 1851.
  • Tokoh-tokoh pendirinya adalah Isaac Esser, mantan Residen Timor, Pdt. E. W. King dan Mr. F.L. Anthing. Tujuannya adalah untuk memperluas Kerajaan Allah di tengah-tengah orang Kristen sendiri (di dalam) dan di kalangan orang-orang beragama suku dan Islam (di luar).

NEDERLANCHE ZENDINGS VEREENINGIN (NZV)

  • Nederlanche Zendings Vereeninging (NZV) juga merupakan sending Belanda yang mempunyai andil besar dalam sejarah perkembangan Gereja Kristen Indonesia di Jawa Barat. NZV didirikan di Rotterdam pada tanggal 2 Desember 1858 oleh beberapa orang yang kecewa terhadap Nederlanche Zending Genootscap (NZG). Karena menganggap Nederlanche Zending Genootscap (NZG). Telah dirasuki oleh teologi modern.
  • Oleh karena itu dalam anggaran dasar NZV mereka menetapkan bahwa yang dapat menjadi anggota hanyalah mereka yang mengakui Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat mereka dan tidak bekerja sama dengan mereka yang mengingkari keillahianNya.
  • Dalam makalah yang bertema “Pekabaran Injil seabad yang lalu” Chris Hartono mengatakan: ”NZV adalah sebuah badan pekabaran Injil yang bersifat partikulir, non gerejawi, dalam artian bahwa badan pekabaran Injil itu walau didirikan oleh beberapa anggota gereja Hervomd Belanda, tidak bekerja untuk dan atas nama gereja itu serta tidak bertanggung jawab kepadanya”.
  • Namun baru dipermulaan abad ke – 20 terdapat suatu perkembangan baru, sehingga keadaaan NZV agak berbeda dengan masa sebelumnya. NZV berkaitan erat dengan gereja, khususnya dengan pengakuan gereja dan juga pengutusan para zendeling dilakukan di dan oleh jemaat Nederlandsch Hervomrde Kerk (NHK) bahkan banyak pendeta dari gereja tersebut yang menjadi pengurus NZV. Tokoh2 NZV al: C Albers, D.J. Van Den Linden, G,J, Grashuis, J.L. Zegers, O. Van der Brug, J. Van de Weg, I Tiermersma, B.M. Alkema, dll.

MISI ORANG TIONGHOA PERANTAUAN

  • Selain dua badan Sending Belanda: GIUZ dan NZV yang melakukan pekabaran Injil kepada orang-orang Tionghoa, ada juga pekabar Injil dari Tiongkok daratan. Seperti: Gan Kwee, berasal dari Kota Amoy – Xia Men Tiongkok.
  • Gan Kwee selain melayani di Patekoan tetapi juga di Cirebon, Tegal, Semarang, Ambarawa, Salatiga, Solo, Magelang, bahkan di Pasuruan dan Probolinggo.
  • Selain Gan Kwee, pekabar Injil yang datang dari Tiongkok al: Gouw Kho, John Sung, Dzao Sze Kuang

MISI ORANG TIONGHOA PERANAKAN

  • Ada beberapa tokoh pekabar Injil orang Tionghoa peranakan yang memberi sumbangsih besar bagi keberadaan GKI Jabar misalnya: Ang Bun Sui dan anaknya, Ang Dji Gwan, serta Tan Ki An di Indramayu, melalui pelayanan mereka berdirilah GKI Indramayu, sebagai jemaat GKI Jabar tertua (berdiri tahun 1858). Cara yang dipakai mereka untuk mengabarkan Injil kepada sesama orang Tionghoa adalah melalui Pemahaman Alkitab.
  • Disamping tokoh-tokoh pekabaran Injil Tionghoa Peranakan di Indramayu, secara khusus akan diuraikan pekerjaan pekabaran Injil oleh orang Tionghoa Peranakan yang berkaitan erat dengan sejarah perkembangan GKI Jabar Klasis Priangan, antara lain: Yoe Ong Pauw (Cirebon), Thung Goan Hok (Bandung) dan Gouw Kho (Patekoan – Jakarta).

TIONG HOA KIE TOK KAUW HWEE

  • Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee adalah nama yang dipakai oleh jemaat-jemaat Tionghoa yang merupakan cikal bakal jemaat-jemaat GKI Jawa Barat.
  • Dalam perjalanan sejarah Jemaat-jemaat Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee ini tidak hanya menggunakan bahasa Hokkian atau Mandarin, tetapi juga menggunakan bahasa Indonesia. Dalam kenyataannya yang menggunakan bahasa Indonesia lebih cepat berkembang ketimbang yang berbahasa dialek Hok Kian atau Mandarin.

JEMAAT GLORIA / PINANGSIA

  • Seperti yang tertulis dalam sejarah GKI Perniagaan. Oleh karena kesulitan pembagian waktu dan tempat, maka pada tahun 1952 sebagian anggota jemaat Patekoan yang berbahasa Hokkian (yang ketika itu adalah bagian Jemaat Patekoan) berusaha mencari tempat lain. Pada tanggal 11 April 1952 gedung gereja Jalan Pinangsia I No 18, Jakarta diresmikan sebagai Jemaat yang berdiri sendiri dan tetap dilayani oleh Pendeta Gouw Bo Tjay
  • Tokoh-tokoh jemaat Pinangsia selain Pdt. Gouw Bo Tjay juga ada Ang Tian Tju, Liem Thung Siu, Tjuang Oen Tek, Gan Kong Peng dan lain sebagainya.

JEMAAT KANAAN / JEMBATAN DUA

  • Sebagian anggota jemaat yang juga berbahasa Hokkian tidak turut pindah ke Jemaat Pinangsia, mereka bertempat tetap di Jemaat Patekoan dan pada tanggal 18 Mei 1952 mereka diresmikan sebagai jemaat yang berdiri sendiri dan dilayani oleh Pdt. Gouw Khiam Kiet.
  • Diakui oleh Sinode GKI jabar sebagai bagian dari jemaat Patekoan Ban Lan Tong. Atau sebagai jemaat Patekoan Hwa Yu Phu (Min Nam Tong).
  • Adapun tokoh dari jemaat tersebut adalah Wang Cun Seng dan Pnt. We Ka Seng
  • Dalam perkembangan jemaat ini, yang memerlukan sarana/fasilitas yang lebih memadai, akhirnya memisahkan diri dari jemaat patekoan (1972). Untuk sementara waktu kebaktian jemaat Hokkian ini memakai gedung gereja Pemberita Injil, di Jalan Kemurnian V. Dan atas kemurahan Tuhan, pada tahun 1973 jemaat ini membeli sebidang tanah di Jembatan Dua, sehingga kemudian jemaat ini dikenal sebagai GKI Kanaan.

JEMAAT BUNGUR

  • Di usia yang masih relatif sangat muda, jemaat Pinangsia telah memikirkan pelayanan pekabaran Injil di daerah Senen. Pekabaran Injil tersebut dimulai pada tanggal 11 Mei 1952, oleh Thio Eng Hoa dan Tjioe Ie Fung dengan cara mendatangi rumah per- rumah di daerah ‘Pasar Senen’ (d/h Pasar Lama). Beberapa bulan kemudian akhirnya diputuskan untuk mengadakan kebaktian dalam bahasa Hokkian dengan meminjam gedung gereja Gunung Sahari IV. Kemudian Persekutuan tersebut menjadi sebuah Pos PI di bawah asuhan Tiong Hoa Kie Tok Kauw `Hwee Jemaat Pinangsia (Sekarang GKI Gloria).
  • Anggota majelis yang menangani Pos PI tersebut antara lain : Tjuang Oen Tek, Liem Thung Siu, Tjoa Tiauw Beng (Enoch Tjakra), Ong Sen Yen dan Lie Ming The.
  • Karena perkembangan jemaat bertumbuh dengan baik dan dirasakan perlunya membeli sebidang tanah, akhirnya pada pertengahan bulan Agustus 1956 jemaat ini membeli sebidang tanah dengan luas 2.280 M2 di jalan Bungur Besar 84 Jakarta.

JEMAAT-JEMAAT DI BANDUNG

  • Pekabaran Injil kepada orang Tionghoa di Bandung bermula dari hasil pekabaran Injil yang dilakukan oleh Zendeling NZV kepada seorang yang bernama Thung Goan Hok. Setelah sekian lama ia diinjili akhirnya berkat kemurahan Allah, ia bertobat dan menerima Kristus sebagai Juruselama pribadinya. Kemudian ia menerima baptisan kudus pada tanggal 9 Desember 1888 yang dilayani oleh A. de Haan (Zendeling dari NZV di Sumedang).
  • Sebagai orang Tionghoa pertama di Bandung, yang menghayati imannya secara hangat Thung Goan Hok berusaha mengabarkan Injil dengan jalan mengadakan Kumpulan Pekabaran Injil/Kebaktian pekabaran Injil di rumahnya. Banyak orang Tionghoa yang mengikuti kumpulan pekabaran Injil tersebut. Melalui Kumpulan pekabaran Injil tersebut, pada tahun berikutnya dibaptiskanlah 17 orang Tionghoa (dewasa dan anak-anak) Inilah cikal bakalnya jemaat Tionghoa di Bandung. 37).
  • Orang Tionghoa Peranakan lainnya yang juga rajin mengabarkan Injil kepada sesama orang Tionghoa adalah Tan Goan Tjong, Gouw Gwan Djang, The Tee Bee dan lain-lain. Mereka inilah yang melakukan pekebaran Injil di kota-kota lain, misalnya di Cimahi, Cianjur, Tasikmalaya, Cirebon, Garut dan lain-lain.

JEMAAT ANUGERAH – BANDUNG

  • Dalam sejarah perkembangan Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee di Bandung (1945), seperti yang juga terjadi di jemaat-jemaat lain, karena masalah bahasa, kebaktian tidak lagi menggunakan bahasa Tionghoa, melainkan hanya menggunakan bahasa Indonesia. Hal ini menimbulkan masalah tersendiri.
  • Akhirnya anggota jemaat yang hanya mengerti bahasa Tionghoa memisahkan diri dari induknya dan membentuk persekutuan (1949), yang kemudian dikenal sebagai jemaat Chinese Christian Church (CCC).
  • Pada tahun 1950 juga karena faktor bahasa dialek, terjadi pemisahan lagi yakni yang berbahasa dialek Hokkian mendirikan jemaat Hok Im Tong Bandung, sedangkan yang berbahasa dialek Hok Cia tetap menggunakan nama Chinese Christian Church (CCC) yang sekarang dikenal sebagai jemaat Anugerah Bandung.
  • Dalam perjalanan sejarah GKI Anugerah pernah tiga kali mengalami pergolakan,
  • Tahun 1958 sebagian anggota jemaat memisahkan diri dan mendirikan jemaat baru yang sekarang dikenal dengan nama Gereja Kristen Immanuel.
  • Tahun 1960 terjadi hal yang sama, dibawah pimpinan Pdt. Than Kok Thung,
  • Tahun 1976 terjadi untuk ketiga kalinya, sebagian anggota jemaat memisahkan diri lagi dibawah pimpinan Pdt. Paul Rusli dan mendirikan Gereja Kristen Kalam Hidup.

SEJARAH TERBENTUKNYA KLASIS PRIANGAN

  • Jemaat-jemaat di lingkungan Klasis Priangan sebelum bergabung menjadi satu klasis, masing-masing bernaung di dalam klasis Bandung dan klasis Jakarta. Yang tergabung dalam Klasis Bandung adalah Jemaat Hok Im Tong, Jemaat Ka Im Tong dan Jemaat Anugerah. Sedangkan yang tergabung di dalam Klasis Jakarta antara lain: Jemaat Pinangsia, Jemaat Bungur dan jemaat Patekoan Hokkian.
  • Pada tahun 1960 Tiong Hoa Kie Tok Kauw` Hwee Khu Hwee West Java hanya memiliki 25 jemaat dank arena kebutuhan dalam pelayanan, maka jemaat yang berbahasa Tionghoa membentuk suatu komisi didalam Sinode THKH-KHDB yaitu komisi kerja sama jemaat berbahasa Tionghoa.
  • Komisi tersebut mengadakan rapat pertamanya di jemaat Hok Im Tong Bandung, Ketua komisi tersebut adalah Pdt. Shu Yen Yen sedangkan sekretarisnya adalah Lim Sioe Tjin. Hasil keputusan rapat tersebut al : rapat pengurus Komisi diadakan setiap enam bulan sekali dengan tempat di jemaat secara bergilir, dan mengutus orang .untuk duduk sebagai pengurus Klasis Bandung.
  • Pada tahun 1961, karena kebutuhan pelayanan, Komisi Hua Yu ini menerima mahasiswa dari Madrasah Alkitab Asia Tenggara –Malang (sekarang SAAT) atas diri Ev. Tjan Jun Tong (Lukas Tjandra) untuk khusus melayani di Komisi Hua Yu.
  • Pada tanggal 13 Agustus 1970 dalam Persidangan Majelis Sinode GKI Jabar yang diadakan di jemaat Anugerah Bandung, diputuskan Komisi Kuo Yu ditingkatnya menjadi sebuah klasis dan diberi nama Klasis Priangan. Sehingga Klasis Priangan menjadi salah satu klasis dari 4 klasis dalam tubuh Sinode GKI Jawa Barat.
  • Persidangan Klasis Priangan yang pertama diadakan pada tanggal 13 -14 Agustus 1970 yang bertempat di jemaat Anugerah itu dihadiri oleh utusan dari 6 jemaat : Jemaat Hok Im Tong Bandung, Jemaat Anugerah – Bandung, Jemaat Ka Im Tong – Bandung, Jemaat Pinangsia- Jakarta, Jemaat Bungur- Jakarta dan Jemaat Patekoan Hokkian Jakarta.

TUJUAN DIBENTUKNYA KLASIS PRIANGAN

  1. Memperhatikan anggota jemaat yang berbahasa Mandarin.
  2. Selain mengabarkan Injil kepada orang yang berbahasa Indonesia, Klasis Priangan juga memiliki tugas dan tanggung jawab kepada orang yang berbahasa Mandarin.
  3. Mempertahankan kepercayaan yang murni (Yudas. Ayat 3).

VISI DAN MISI KLASIS PRIANGAN

  • Majelis Jemaat di lingkungan Klasis Priangan disamping mengemban Tugas Panggilan Gerejawi secara umum sesuai dengan Tager dan Talak GKI, juga terpanggil untuk:
  • Menggembalakan dan mengabarkan Injil untuk orang-orang yang hidup dalam budaya Tionghoa, memakai bahasa Mandarin atau bahasa Tionghoa yang lainnya.
  • Dengan semangat oikumene, melalui Klasis Priangan menjembatani GKI dengan gereja-gereja lain yang berlatar belakang Tionghoa, baik yang ada di dalam negeri maupun yang ada di luar negeri.

GKI SINODE WILAYAH JAWA BARAT:

  1. Klasis Jakarta Barat
  2. Klasis Jakarta Timur
  3. Klasis Jakarta Selatan
  4. Klasis Jakarta Utara
  5. Klasis Bandung
  6. Klasis Cirebon
  7. Klasis Priangan

KLASIS PRIANGAN:

  1. GKI ANUGERAH BANDUNG
  2. GKI GLORIA / PINANGSIA
  3. GKI BUNGUR
  4. GKI KANAAN / JEMBATAN DUA
  5. GKI JATINEGARA
  6. GKI SION – TASIKMALAYA
  7. GKI RAHMANI- CIREBON
  8. GKI PENGINJIL SUKABUMI
  9. GKI HARAPAN INDAH – BEKASI
  10. GKI KOTA MODERN TANGERANG
  11. GKI CITRA RAYA TANGERANG
  12. GKI PEKAN BARU
  13. GKI TAMAN DUTA MAS – BATAM
  14. GKI AGAPE KELAPA GADING

KEUNIKAN KLASIS PRIANGAN

  1. MEMAKAI BAHASA MANDARIN
  2. JABATAN GEREJAWI: PENDETA, PENATUA DAN DIAKEN
  3. KEPENGERJAAN: PENGERJA LOKAL, KLASIKAL DAN SINODAL
  4. MEMILIKI TALAK KHUSUS PEMILIHAN PENATUA / DIAKEN
  5. PENGERJA DARI STT YANG BERLATAR BELAKANG INJILI / TIONGHOA.
  6. LITURGI KEBAKTIAN: KLASIS DAN SINODE