Dipanggil untuk Bertobat, Percaya, dan Mengikut Dia

Renungan Minggu, 25 Januari 2015 – Minggu III setelah Epifani Pengampunan, pertobatan, dan menjadi pengikut Kristus adalah sebuah pengajaran yang tidak pernah usang dalam penghayatan (kehidupan) iman Kristen kita. Tetapi, pengampunan Allah yang begitu besar sering kali ditanggapi dengan tindakan “murahan”, ketika kita tidak menganggap hidup pertobatan perlu diperhatikan dengan serius dan sungguh-sungguh. Kasih Allah […]

Dipanggil untuk Mengikut Yesus

Renungan Minggu, 18 Januari 2015 – Minggu II setelah Epifani Tuhan memanggil manusia untuk mengikuti-Nya. Namun, panggilan Tuhan ini tidak direspon secara sama oleh semua orang. Sebagian orang mendengar panggilan Tuhan lalu segera mengikut. Sebagian orang menolak panggilan Tuhan, dan tidak percaya kepada-Nya. Dalam perikop-perikop yang kita baca hari ini, kita melihat bagaimana panggilan Tuhan […]

Dikasihi dan Diperkenan

Renungan Minggu, 11 Januari 2015 – Yesus Dibaptis (Minggu I setelah Epifani) Markus 1:4-11 adalah perspektif Markus tentang kasih dan perkenan Allah. Dalam injilnya, Markus memperkenalkan Yesus sebagai Anak Allah dan Mesias, namun juga sekaligus seorang hamba yang menderita. Yohanes Pembaptis datang dan memberitakan baptisan pertobatan. Baptisan pertobatan ini berkaitan erat dengan ritus-ritus pembersihan yang […]

Terang yang Memandu Kepada Kristus

Renungan Minggu, 4 Januari 2015 – Minggu Epifani Sebagai murid-murid Kristus, umat Kristen (seharusnya) turut menyatakan tanda-tanda Kerajaan Allah, dan turut mengundang segala makhluk untuk hidup di dalam anugerah Kerajaan Allah (band. Mrk. 16:15). Di tengah kehidupannya, ia (seharusnya) melakukan apa pun “dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah” (Kol.3:17). Melalui […]

Ketaatan yang Merdeka sebagai Wujud Partisipasi Umat dalam Karya Kasih Allah

Renungan Minggu, 28 Desember 2014 Thomas Hobbes memberikan pendapat bahwa pada dasarnya orang-orang itu jahat. Mereka akan berpotensi untuk saling menyerang satu dengan yang lain demi kepentingan-kepentingan diri. Oleh karena potensi kejahatan itu, negara harus berperan seperti leviathan. Negara harus menjadi lebih kejam untuk memaksa warganya menjadi baik. Warga negara harus ditakut-takuti agar menjadi taat. […]