Doa adalah napas orang beriman! Ini bukan definisi doa, melainkan pengingat betapa pentingnya berdoa itu. Bagaikan napas, tidak bernapas berarti mati. Tidak berdoa berarti kita mengalami kematian rohani atau kematian spiritual. Seberapa penting penghayatan ini akan tercermin dari praktik doa kita.
Yesus adalah contoh yang sempurna dalam kehidupan doa. Dalam tiap tahapan pelayanan-Nya, Ia mengambil waktu dan tempat khusus untuk bersekutu dengan Bapa-Nya. Persekutuan itu sangat karib sehingga menyatu. Yesus tahu persis apa yang harus dilakukan-Nya, termasuk jalan salib yang akan dijalani-Nya. Dalam persekutuan dengan Bapa, Yesus melihat salib itu bukan sebagai perkara yang mengerikan. Alih-alih merasa menjadi korban, Ia memandang jalan itu sebagai jalan untuk memuliakan diri dan Bapa-Nya.
Pada saat-saat terakhir dalam misi pelayanan-Nya, Yesus berdoa. Dalam doa-Nya, Ia membawa para murid agar bersatu dan dapat melanjutkan karya-Nya. Doa bagi Yesus bukan semata-mata untuk pemenuhan kepentingan sendiri, melainkan menjadi berkat bagi orang lain.
Para murid menerjemahkan kehidupan doa mereka dengan cara menaati apa yang dipesankan oleh Yesus. Setelah Yesus terangkat ke surga, atas bimbingan malaikat Tuhan, mereka kembali ke Yerusalem. Di sana mereka tekun berdoa, sabar menanti janji Tuhan tentang Roh Kudus yang akan menolong mereka. Doa dalam penantian dan persekutuan ini bagaikan lahan yang subur, tempat janji Tuhan digenapi.
Apakah dalam kehidupan bergereja, ketekunan dalam doa dan hidup dalam persekutuan kasih menjadi ciri utama? Ingat, Yesus pernah mengatakan, “… semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”
(Dian Penuntun 41)








