Banyak orang meyakini bahwa manusia diselamatkan oleh iman. Namun, tidak sedikit yang lupa bahwa iman merupakan anugerah Roh Kudus agar kita tidak hanya menjadi penikmat berkat, melainkan juga mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah. Orang percaya tidak dipanggil untuk hidup sebagai penonton atau sekadar pengejar berkat, melainkan sebagai pelaku yang terlibat aktif dalam narasi keselamatan melalui hidup yang seturut dengan panggilan Allah.
Iman berkelindan erat dengan kesetiaan dan konsistensi dalam melakukan pekerjaan baik yang telah Allah tetapkan. Sering kali kita memulai sebuah proyek, pekerjaan, atau pelayanan dengan semangat yang besar, tetapi kemudian meninggalkannya ketika menghadapi kesulitan, kejenuhan, atau kelelahan. Banyak orang merespons panggilan pelayanan dengan antusias, namun setelah menjalaninya, mereka menyadari bahwa pelayanan tidak selalu seindah dan semudah yang dibayangkan. Ada saat-saat ketika kita harus bergumul dengan kebosanan, keletihan, bahkan keinginan untuk berhenti.
Sayangnya, ketika seseorang berhenti, sering kali sulit untuk memulai kembali. Pelayanan dalam keluarga, pekerjaan, gereja, kehidupan bermasyarakat, maupun kepedulian terhadap alam dapat menghadapi ancaman yang sama: kebosanan dan stagnasi. Dalam situasi seperti inilah Allah memanggil setiap orang percaya untuk tetap setia melakukan apa yang baik dan mulia, terus melayani, sekalipun hati dan tenaga terasa lelah. Kita dipanggil untuk melanjutkan karya kebaikan bukan semata-mata karena menyukainya, melainkan karena Allah menghendakinya. Sebab Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi dunia melalui orang-orang yang mengasihi-Nya.
Pada Minggu Biasa Kesepuluh ini, umat diingatkan kembali akan mandat untuk berpartisipasi dalam karya keselamatan Allah melalui kisah pemanggilan Abram. Fokus kisah ini bukanlah untuk mengagungkan Abram sebagai bapa orang beriman, melainkan untuk melihat Allah yang tidak pernah lelah memanggil dan menyadarkan umat-Nya agar terlibat dalam penggenapan karya keselamatan yang telah dirancang-Nya sejak semula.
Melalui kisah pemanggilan Abram, kita diteguhkan bahwa janji Allah kepada umat-Nya merupakan titik tolak bagi karya keselamatan Allah bagi dunia. Pelibatan umat dalam pekerjaan Allah adalah sebuah privilege—hak istimewa yang diberikan kepada kita untuk turut menjadi saluran berkat bagi sesama dan seluruh ciptaan. (Diadaptasi dari Dian Penuntun Edisi 42)







