Renungan Minggu, 01 Februari 2025
Seseorang bisa melakukan hal yang buruk demi mencapai tiga hal tersebut. Mereka tidak lagi memedulikan apakah cara menjalani ketiga hal itu seturut dengan kehendak Allah atau tidak.
Persoalan lainnya adalah begitu mudahnya konten semacam itu diakses. Akibatnya, orang Kristen menjadi lebih memercayai—atau setidaknya melihat—kata-kata tersebut sebagai opsi atau dasar untuk menjalani hidup mereka. Perhatian terhadap firman Tuhan pun semakin berkurang. Banyak orang merasa bahwa standar seperti itu lebih mudah dilakukan dan lebih relate dengan kehidupan mereka saat ini, sementara Alkitab dipandang sebagai sesuatu yang rumit, sulit dipelajari, dan sukar dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari.
Lalu, standar apa yang seharusnya dimiliki? Apa kata Alkitab mengenai standar hidup orang Kristen?
Standar tersebut dapat dipahami melalui kata-kata dalam Ucapan Bahagia yang disampaikan Tuhan Yesus kepada orang Israel—sebuah ucapan bahagia yang justru lahir dari ketidakbahagiaan menurut ukuran dunia. Melalui Ucapan Bahagia itu, Kristus mengundang umat untuk melihat bahwa di dalam kasih-Nya terdapat hidup yang patut disyukuri, diperjuangkan, dan diupayakan dengan sungguh-sungguh, selama landasannya adalah firman Tuhan.
Yang terpenting, dunia bukan lagi ukuran utama. Dunia kehilangan kuasanya ketika kehidupan dijalani berdasarkan standar kebahagiaan yang diajarkan Tuhan. Melalui perenungan firman Tuhan pada Minggu IV sesudah Epifani ini, Tuhan menampakkan diri melalui hikmat dan firman yang menggugah umat untuk kembali mengandalkan Tuhan sepenuhnya. Umat diajak untuk kembali melihat betapa kaya, indah, dan hebatnya firman Allah bagi kehidupan.
Tinggalkan Balasan