Renungan Minggu, 26 Oktober 2025
Seorang ibu merasakan kegentaran di dalam hatinya saat mendengarkan pendetanya berkotbah tentang dosa. Ia pun bertekad dalam hatinya, “Sepekan ini aku tidak akan keluar dari rumah sama sekali supaya bisa menjaga diri agar tidak berbuat dosa.”.
Tekad itu pun dilakukan dengan penuh kesungguhan oleh sang ibu. Ia benar-benar diam di dalam rumah supaya tidak perlu bertemu seseorang dan tidak berbuat dosa.
Saat hari minggu tiba, sang ibu pun dengan bangganya datang ke gereja dengan sebuah keyakinan bahwa ia tidak melakukan dosa karena selama satu pekan ini ia tidak keluar rumah dan tidak berbuat dosa.
Pertanyaannya adalah apakah benar sang ibu tidak berbuat dosa hanya karena ia tidak keluar rumah? Sesungguhnya, saat ia datang dengan penuh kebanggan pun, ternyata disana ia sudah berbuat dosa. Ya, karena pada dasarnya tidak ada manusia yang tidak berdosa.
Semua agama mengenal konsep dosa dan penebusan dosa. Ada berbagai macam pandangan terkait dosa, karena memang dosa tidak bisa dipisahkan dari hidup manusia.
Ada yang berpandangan bahwa manusia dilahirkan tanpa memiliki dosa. Ada juga yang berpendapat bahwa sejak lahir seseorang sudah membawa dosa turunan atau dosa asal.
Namun, saat diperhadapkan dengan hidup manusia, ternyata ada dua sikap religius manusia. Ada orang yang menyadari bahwa dirinya adalah orang yang bersosa atau tidak terlepas dari dosa, sehingga ia harus terus menerus melakukan pengakuan dosa dan hidup di dalam anugerah pengampunan.
Ada juga orang yang merasa bahwa ia telah menjalani kehidupan dengan sangat baik sesuai Firman Tuhan, sehingga ia merasa tidak perlu lagi mengaku dosa atau merasa berdosa, dan sering kali memandang dirinya begitu tinggi sementara orang lain begitu rendah.
Padahal, untuk bisa hidup dalam penyertaaan dan lindungan Allah, diperlakukan sebuah relasi yang baik dengan Tuhan. Relasi yang tidak dihalangi oleh dosa dan kesombongan diri.
Memperbaiki relasi memang tidak mudah. Namun, saat kita mampu memperbaiki relasi yang ada dengan penuh kesungguhan, maka relasi kita dengan Tuhan akan dapat dipulihkan. Lebih lanjut, disadari atau tidak, pemulihan relasi dengan Allah itu akan berdampak bagi pemulihan relasi di dalam keluarga. (Dian Penuntun Edisi 40).
Bacaan Alkitab:
Nyanyian Jemaat:
- PKJ 191:1-3
- KJ 29:1-2
- KJ 383:1-2
- KK 382:1-2
- PPK 115:1-3
Tinggalkan Balasan