Renungan Minggu, 5 Oktober 2025
Dewasa ini, terdapat fenomena dimana cukup banyak orang meninggalkan iman mereka atau memilih untuk tidak percaya kepada Tuhan dan bersikap skeptis. Salah satu faktornya adalah karena mereka merasa iman tidak lagi relevan dengan pergumulan dan tantangan hidup.
Misalnya, seseorang mengaku beriman, memiliki pengenalan tentang Tuhan, fasih ajaran kitab suci, tapi perilaku dan moralitasnya buruk. Ada juga yang merasa ditinggalkan oleh Tuhan di tengah pergumulan hidup yang berat atau pemuda-pemudi yang mengalami kebingungan karena tak menemukan sosok teladan dalam hidup beriman.
Adapula yang kecewa terhadap tokoh agama atau komunitas agama yang melakukan kekarasan atas nama Tuhan, entah itu kekerasan seksual, verbal hingga fisik, intimidasi, persekusi, dan lain-lain.
Tak heran kemudian muncul pernyataan, “Lebih baik tak ber-Tuhan tetapi berperilaku seperti malaikat, daripada mengaku ber Tuhan tetapi berperilaku seperti setan.” Dengan kata lain, iman dirasa tidak lagi mampu memberikan jawaban atas persoalan yang terjadi di sekitar hidup seseorang.
Ketika kondisi ini diperhadapkan pada keluarga dan gereja sebagai komunitas iman, mau tidak mau, mesti ada respon apakah iman masih relevan bagi manusia hari ini, atau jangan-jangan terjadi kegamangan tentang hal tersebut.
Keluarga dan gereja seharusnya menjadi tempat belajar bagi siapa pun untuk mengenal Tuhan dan bertumbuh dalam iman yang relevan dengan kenyataan hidup. Ada beragam sarana pembelajaran dalam keluarga, relasi, perjumpaan, mezbah doa, persekutuan, luka, konflik, dan lain-lain.
Proses menanamkan sampai menumbuhkan iman harus dilakukan secara bersengaja dan konsisten. Tujuan dari proses tersebut adalah setiap anggota memiliki pengalaman iman secara pribadi, bukan iman yang sekedar diwariskan, apalagi dipaksakan.
Bacaan leksionari Minggu ini mengajak umat untuk melihat bagaimana peran keluarga atau komunitas dalam menanamkan dan menumbuhkan benih iman. Para murid Yesus dan Timotius mengalami hal tersebut.
Demikian juga, pengalaman Habakuk dan Pemazmur menjadi gambaran bagaimana iman mesti relevan dengan pergumulan yang dihadapi. Meski pengalaman iman mereka berbeda satu dengan lainnya, tapi ada satu kesamaan, yakni bahwa benih iman itu bertumbuh, sehingga mereka percaya pada Tuhan, menemukan jawaban atas pergumulan mereka, berani melanjutkan kehidupan. (Dian Penuntun Edisi 40).
Bacaan Alkitab:
Nyanyian Jemaat:
- KJ 46:1-3
- PKJ 40:1-2
- PKJ 131:1-2
- Persembahan Hati (2X)
- Lagu Tema Bulan Keluarga
Tinggalkan Balasan