Renungan Minggu, 15 Februari 2025
Orang yang berharap bahwa dengan menjadi Kristen hidupnya akan menjadi mudah dan serba enak, pasti akan kecewa. Dalam kehidupan menggereja, banyak dijumpai orang yang marah pada gerejanya lalu meninggalkan persekutuan karena merasa tidak mendapat apa-apa di dalamnya.
Gambaran persekutuan dengan layanan seperti hotel bintang lima sering kali kandas. Di dalamnya kadang dijumpai perbedaan pendapat antar kelompok, gosip-gosip, aneka ketidakpuasan, dan berbagai situasi yang dirasa tidak menyenangkan. Selain dalam persekutuan umat, dijumpai pula kisah kandasnya cita-cita dalam pekerjaan, studi, relasi dengan sesama, serta aneka harapan lainnya.
Ketidaksiapan menghadapi kekecewaan dan pergumulan mendatangkan rasa pilu yang dalam. Di sinilah peneguhan dibutuhkan oleh mereka yang memerlukan dukungan.
Petrus merasakan peneguhan Allah melalui peristiwa transfigurasi Kristus. Bersama Yakobus dan Yohanes, mereka melihat wajah Kristus bercahaya seperti matahari dan jubah-Nya tampak putih berkilauan. Sebagai orang Yahudi yang memegang teguh ajaran Taurat, kemilau cahaya Yesus tentu terasa menakutkan (bdk. Kel. 33:20).
Namun, perasaan mereka keliru. Sapaan Yesus, “Berdirilah, jangan takut” (Mat. 17:7), membuat mereka mampu mengalahkan rasa takut. Ketakutan mereka berubah menjadi keberanian untuk berdiri dan berjalan bersama menuruni gunung serta memasuki Yerusalem, kota tempat penderitaan Yesus akan terjadi.
Transfigurasi menjadi peristiwa yang menakutkan sekaligus menggetarkan Petrus. Pengalaman peneguhan Allah membuatnya mampu memberikan dukungan bagi sesama umat Allah yang sedang menghadapi berbagai pergumulan di perantauan (bdk. 2 Ptr. 1:19).
Pengalaman Petrus sejatinya adalah pengalaman setiap pengikut Yesus di sepanjang zaman. Cahaya kemuliaan Kristus menerangi berbagai pergumulan umat-Nya. Sebagai orang-orang yang diteguhkan Allah, marilah kita hadir bagi sesama yang membutuhkan dukungan kasih dengan hidup saling meneguhkan satu sama lain.
Dian Penuntun Edisi 41
Tinggalkan Balasan