Renungan Minggu, 18 Januari 2026
Minggu II Sesudah Epifani menempatkan pembacanya dalam terang penampakan Kristus, yakni masa ketika gereja merenungkan bagaimana Yesus dinyatakan kepada dunia. Bacaan Yohanes 1:29–42 membuka pemahaman ini melalui kesaksian Yohanes Pembaptis: “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia.” Pernyataan ini merangkum makna simbol domba dalam tradisi Ibrani—sebagai tanda pembebasan dari maut (Paskah), pengampunan dosa (kurban harian), dan penebusan umat (Hamba Tuhan). Yohanes ingin menegaskan bahwa seluruh harapan umat Israel berpuncak pada Pribadi Yesus.
Namun demikian, Yesus hadir bukan sebagai Mesias penakluk, melainkan sebagai Anak Domba yang lemah lembut. Ia menghapus dosa dunia bukan melalui kuasa duniawi, melainkan melalui kasih dan pengorbanan. Pewahyuan ini menantang ekspektasi manusia dan mengubah cara manusia mengenal Mesias.
Proses pengenalan akan Yesus tidak terjadi melalui ajaran yang sistematis, melainkan melalui undangan yang bersifat personal. Ketika dua murid mulai mengikuti-Nya, Yesus bertanya, “Apa yang kamu cari?” dan mengundang mereka, “Marilah dan kamu akan melihatnya” (Yoh. 1:38–39). Dalam Injil Yohanes, “melihat” berarti mengenal, dan “tinggal” berarti membangun relasi yang dalam dan berkelanjutan. Hal ini tampak dalam pengalaman Simon yang, setelah tinggal bersama Yesus, menerima nama baru—Kefas atau Petrus. Nama baru tersebut menandakan arah hidup yang baru, yakni identitas yang dibentuk oleh Kristus.
Bacaan Yesaya 49, Mazmur 40, dan 1 Korintus 1 semakin memperkaya makna ini. Allah memanggil umat-Nya di tengah kerapuhan, merindukan ketaatan yang lahir dari hati, dan membentuk komunitas-Nya dalam kasih karunia. Pertanyaan Yesus pun tetap bergema hingga hari ini: “Apa yang kamu cari?” Undangan-Nya senantiasa terbuka bagi siapa saja yang mau tinggal dan dibentuk oleh-Nya.
(Dian Penuntun Edisi 41)
Tinggalkan Balasan