Renungan Minggu, 15 Maret 2026 (Pra Paskah IV)
Masa Pra-Paskah mengundang umat untuk hidup dalam pertobatan dan penyangkalan diri. Mengapa demikian? Karena pada dasarnya hati manusia cenderung condong kepada kebebalan dan dosa. Manusia sering kali lebih mudah melihat kesalahan orang lain dan merasa bahwa kebenaran hanya ada pada dirinya sendiri. Ketidakmampuan untuk melakukan refleksi diri membuat seseorang sulit melihat kelemahan dalam dirinya. Akibatnya, tidak ada kesadaran bahwa tindakan-tindakan yang dilakukannya bisa saja keliru atau salah.
Di Indonesia, kata “khilaf” sering menjadi bagian dari ungkapan ketidaksadaran atas kesalahan yang dilakukan seseorang. Kata ini akrab terdengar dalam berbagai percakapan, terutama ketika seseorang diketahui melakukan kesalahan. Misalnya, seseorang berkata, “Pak, maaf saya khilaf.” Kalimat tersebut biasanya diucapkan sebagai bentuk permintaan maaf karena tanpa sadar telah melakukan kesalahan.
Namun, apakah benar semua kesalahan terjadi tanpa kesadaran? Jika seorang pencuri sedang beraksi di sebuah minimarket, apakah orang-orang di sekitarnya akan mendekatinya, menepuk bahunya, dan berkata, “Sadar, Mas… tolong sadar…”? Tentu saja tidak. Tindakan mencuri biasanya dilakukan dengan sadar dan disengaja. Akan tetapi, ketika pencuri tersebut tertangkap dan diinterogasi oleh pihak berwajib, bisa saja ia mengeluarkan kata pamungkas: “Maaf, saya khilaf.” Kata yang pada akhirnya sering digunakan sebagai bentuk pembenaran diri.
Bacaan leksionari pada Minggu IV Masa Pra-Paskah ini mengajak umat untuk menyadari kelemahan insani karena dosa. Ketika seseorang mengakui dosanya, ia juga mengakui kebutuhannya akan Sang Juru Selamat. Ia menyadari bahwa dirinya berada dalam kegelapan dan membutuhkan Yesus sebagai Terang Dunia.
Upaya mencari kebenaran akan berakhir sia-sia jika dilakukan di luar Yesus Kristus, Sang Terang Dunia. Hanya di dalam Dia manusia menemukan makna kehidupan yang sejati serta identitas dirinya sebagai ciptaan yang dipulihkan oleh kasih Allah.
Tinggalkan Balasan