Renungan Minggu, 22 Februari 2026
Jalan pintas kerap menjadi pilihan saat melakukan perjalanan. Alasannya untuk menghemat waktu, tenaga, dan biaya agar tujuan segera tercapai. Namun, tidak selamanya jalan pintas merupakan pilihan yang tepat. Sering kali jalan yang dianggap lebih cepat justru sempit, berlubang, dan berujung pada pengalaman yang tidak menyenangkan.
Jalan pintas dapat menjadi metafora dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Ada orang yang ingin kaya secara materi, tetapi tidak mau bekerja keras. Akibatnya, digunakanlah cara-cara jahat untuk memperoleh harta. Dalam tradisi Jawa dikenal sebutan “pesugihan”, yakni praktik ritual tertentu yang diyakini dapat mendatangkan kekayaan bagi seseorang atau keluarga. Praktik semacam ini masih berlangsung hingga kini.
Seiring perkembangan teknologi komunikasi, bentuk “pesugihan” modern pun muncul. Jalan pintas menuju kekayaan ditempuh melalui judi online, investasi bodong, korupsi, dan berbagai tindakan lain yang dianggap dapat menghasilkan keuntungan secara instan. Dalam bidang pekerjaan, usaha, dan bisnis, jalan pintas untuk meraih kesuksesan sering dilakukan dengan memberi suap atau menggunakan cara-cara kotor lainnya.
Pada Minggu pertama dalam masa Pra-Paskah, teks-teks leksionari yang dibacakan berkaitan dengan godaan untuk menempuh jalan pintas. Di Taman Eden, manusia menerima tawaran dari ular untuk memakan buah yang dilarang Allah dengan janji-janji yang manis (Kejadian 2:15–17; 3:1–7). Paulus menjelaskan dampak dari pilihan Adam tersebut (Roma 5:12–19): dosa telah masuk ke dalam dunia melalui satu orang, dan melalui dosa itu maut menyebar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.
Generasi pasca-Taman Eden berusaha menghindari jalan pintas dengan menjalankan hukum Taurat secara sangat detail. Namun, alih-alih terbebas dari penyesatan, yang terjadi justru kesesatan yang semakin jauh.
Bacaan Injil mengisahkan tawaran Iblis kepada Yesus untuk mengikuti berbagai bujukan yang tampak menyenangkan. Namun, Yesus menolak semua jalan pintas yang ditawarkan itu karena Ia taat kepada kehendak Allah. Bagaimana dengan para pengikut Yesus masa kini? Tawaran untuk menempuh jalan pintas yang bertentangan dengan kehendak Allah selalu ada. Dengan meneladani Yesus yang taat kepada kehendak Bapa, umat dimampukan untuk menang atas keinginan menempuh jalan pintas yang menyesatkan.
Bacaan Alkitab
1. Kejadian 2:15-17; 3:1-7;
2. Mazmur 32;
3. Roma 5:12-19;
4. Matius 4:1-11;
Nyanyian Jemaat :
1. Tinggalah Bersama Aku (Penyalaan Lilin);
2. KJ 158:1-3;
3. PKJ 37:1-2;
4. Jadilah Terang Kami;
5. PKJ 153:1-3;
6. KJ 441:1-4;
Tinggalkan Balasan