Renungan Minggu, 22 Juni 2025
Kata “berharga” dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indoneia) berarti ‘mempunyai harga’, ‘berguna’, dan ‘bermanfaat’.
Jika terkait dengan barang, maka barang tersebut harus memenuhi kriteria nilai yang tinggi dan mahal harganya, misalnya perhiasan emas, berlian, uang, dan barang-barang bermerk. Jika dikaitkan dengan manusia, mereka yang kita kategorikan berharga biasanya adalah orang-orang yang memiliki hubungan darah atau kekerabatan dengan kita.
Selain itu, keberhargaan seseorang juga dapat kita nilai berdasarkan pengaruh yang dimiliki seseorang, jabatannya di tengah masyarakat, harta, prestasi yang ia capai, atau seberapa besar jasa orang tersebut di dalam hidup kita. Setiap orang memiliki ukurannya masing-masing tentang siapa orang yang dipandang berharga dalam hidupnya.
Ketika ada yang berharga, maka sebaiknya ada yang dipandang tak berharga. Masalah muncul ketika orang yang dipandang tidak memenuhi kriteria berharga diperlakukan dengan semena-mena. Tembok-tembok pemisah dibangun untuk membedakan siapa yang berharga dan yang tidak. Farha Ciciek, seorang aktivis Perempuan, dalam salah satu hasil penelitiannya, mengungkapkan bahwa pengotakan atau pembatasan seperti itu masih terjadi dan terus dibangun di tengah masyarakat kita.
Tembok pembatas yang ditentukan berdasarkan suku, agama, ras, jenis kelamin, kemampuan ekonomi, kemampuan berpikir, yang berujung pada diskriminasi. Perbedaan dan tembok-tembok pemisah tidak jarang juga muncul di dalam gereja. Padahal, dalam buku Jemaat yang Vital dan Menarik, Jan Hendriks mengatakan bahwa gereja yang menarik adalah gereja yang punya suasana kekeluargaan yang erat, di mana semua orang saling peduli dan mengasihi tanpa membeda-bedakan.
Melalui bacaan leksionari Minggu ini, kita akan melihat pribadi-pribadi yang dipandang berharga di hadapan Tuhan. Melalui pengamatan tersebut, kita akan merenungkan pertanyaan, “Spiritualitas seperti apa yang harus kita miliki? Bagaimana cara kita memperlakukan sesama yang kita jumpai dalam hidup sehari-hari menurut kacamata Kritus?” (Dian Penuntun Edisi 40).
Bacaan Alkitab:
Nyanyian Jemaat:
- PKJ 11
- KJ 27:1,4,5
- PKJ 138:1,3
- Mazmur 22:19-28
- KJ 403:1,3,4
- KJ 256
Tinggalkan Balasan