Renungan, Minggu 25 Januari 2026
Ada sebuah benda yang sering dicari manusia meskipun bukan merupakan kebutuhan pokok, yaitu cermin. Cermin diperlukan untuk memeriksa penampilan, terutama ketika seseorang hendak menghadiri acara penting. Melalui cermin, orang memastikan apakah pakaian yang dikenakan sudah rapi, rambut tertata dengan baik, atau tidak ada benda asing yang mengganggu penampilan.
Namun, kebutuhan akan cermin tidak hanya terbatas pada urusan penampilan fisik. Dalam hidup berkomunitas, manusia juga membutuhkan “cermin” untuk memeriksa pola relasinya dengan sesama. Sayangnya, sering kali manusia lebih mudah melihat dan menilai kesalahan orang lain, sementara kekurangan dan kesalahan dalam dirinya sendiri tidak disadari, apalagi diupayakan untuk diperbaiki. Seperti pepatah mengatakan, “Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak tampak.” Pepatah ini menggambarkan ironi yang kerap terjadi: begitu mudah menyoroti kesalahan orang lain, tetapi enggan mengakui dan mengobati borok diri sendiri.
Saat ini kita berada dalam Minggu Adven II, masa penantian akan kedatangan Kristus kembali. Masa ini mengajak kita untuk menghayatinya melalui pertobatan yang sungguh-sungguh. Pertobatan yang sejati merupakan upaya personal yang memiliki dampak komunal. Seseorang yang berani “bercermin”, mengakui apa yang perlu diperbarui dalam dirinya, serta sungguh mengupayakan perubahan, akan menghasilkan buah yang memulihkan relasi dengan sesama.
Sebaliknya, apabila seseorang lebih sibuk memperhatikan kesalahan orang lain namun mengabaikan pemeriksaan diri, ia justru menjadi penghambat dalam pemulihan relasi. Oleh karena itu, pada Minggu Adven II ini, umat diajak untuk sungguh-sungguh bercermin diri—berani mengorek dan mengoreksi diri—agar mampu menghasilkan buah-buah pertobatan yang membawa pemulihan dalam relasi dengan sesama.
Dian Penuntun Edisi 40
Tinggalkan Balasan