Di tengah kehidupan yang semakin tak pasti – diwarnai oleh krisis ekonomi, relasi yang retak, kegagalan pribadi, atau kehilangan yang dalam – banyak orang Kristen bergumul dengan satu pertanyaan yang tampak sederhana, “Masihkah Allah itu baik ?” Pertanyaan ini bukan lahir dari ketidakpercayaan, melainkan dari kerapuhan iman yang sedang teruji oleh kenyataan hidup yang gelap dan tidak sesuai harapan. Di balik senyum dalam ibadah dan pelayanan, mungkin ada umat yang diam-diam merasa ditinggalkan Allah, karena mulai mengukur kebaikan Allah berdasarkan kelimpahan materi, keberhasilan, atau kenyamanan.
Renungan pada Minggu ini mencoba merespons pergumulan tersebut.
Bacaan leksionaris pada Minggu ini tidak menawarkan jawaban instan, tetapi mengajak umat untuk merenungkan ulang kebaikan Allah dalam terang narasi Kitab Suci, dadri padang gurun Sin, ladang anggur dalam perumpamaan Yesus, hingga dinding penjara Paulus. Ketiganya berbicara kepada jiwa yang letih bahwa kebaikan Allah bukanlah soal “apa yang sedang kita terima”, melainkan “apa yang sedang Dia nyatakan.”
Umat perlu dibimbing kembali pada pengakuan iman yang lebih dalam bahwa Allah tetap baik meskipun doa belum dijawab, bahwa kemurahan-Nya tidak selalu terlihat jelas, dan bahwa penderitaan bukan tanda ditinggalkan. Justru di tempat-tempat yang tak terduga – seperti roti tak dikenal bernama manna, atau dalam tubuh yang terpenjara – kebaikan Allah sedang bekerja.
Dengan demikian, bacaan leksionari pada Minggu ini hadir untuk menguatkan iman umat yang rapuh, menegaskan bahwa kasih dan kebaikan Allah tidak pernah bergantung pada keadaan, tetapi pada kedaulatan dan karakter-Nya sendiri yang setia dan penuh kasih. (Dian Penuntun Edisi 42)
Bacaan Alkitab
Nyanyian
- KJ 19:1,3,5;
- Selidiki aku
- NKB 167:1-3;
- Tak Terbatas
- Kecaplah dan Lihatlah
- GB 78:1,3,5








