“Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama.” Peribahasa ini mengajarkan seseuatu kepada mereka yang masih hidup. Peribahasa ini juga mengajarkan manusia untuk dapat menjalani hidup dengan sebaik-baiknya, agar segala yang telah dilakukan semasa hidupnya memberi dampak yang baik bagi kaum keturunannya.
Pada minggu terakhir bulan Oktober ini, umat diajak untuk berkarya bagi kemuliaan Allah. Umat diajak untuk mewariskan iman dan kasih yang tekah dihidupi kepada kaum keturunan mereka.
Musa adalah tokoh besar dalam Alkitab. Sewaktu bayi dia diletakkan di tepi sungai Nil oleh orang tuanya karena orang tuanya tidak lagi dapat menyembunyikannya. Hal ini diizinkan terjadi, karena Allah punya rencana besar melalui kehidupan Musa (Kel. 2:1-10). Setelah ditemukan oleh putri Firaun, Musa diangkat menjadi anak oleh putri Firaun dan hidup dalam asuhannya.
Kisah hidup musa di bentuk melalui peristiwa demi peristiwa. Musa dipanggil Allah untuk mengenal kamu keluarga dan juga bangsanya serta berkarya bagi mereka. Allah memanggil Musa menjadi pemimpin yang mewariskan iman dan kasih.
Melalui penyertaan Allah, belajar mengenal bangsanya, kaum keluarganya. Musa menerima panggilan Allah untuk berkarya bagi kemuliaan nama-Nya, bagi kaum keluarganya, bangsa pilihan Allah melalui penyertaan allah, Musa juga belajar bahwa keluarga adalah soal keberlanjutan identitas.
Itulah sebabnya ada warisan yang harus ditinggalka agar identitas sebagai umat Allah terus tampak disepanjang kehidupan umat. (Dian Penuntun Edisi 42)
Bacaan Alkitab
Nyanyian
- KK 131:1-3;
- NKB 13:1-2;
- NAG S14;
- NKB 128:1-3;
- KPPK 326;









