Renungan Minggu, 22 Maret 2026 (Pra Paskah V)
Ungkapan bahwa Indonesia ialah negara yang “mabuk agama” banyak ditemukan di berbagai platform media sosial. Hal ini menunjukkan bahwa negara ini tidak kekurangan contoh-contoh kehidupan agamawi. Dalam kurikulum pendidikan pun, penekanan pada pelajaran moral sangat kuat.
Pada era sebelum reformasi, terdapat mata pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Seiring berjalannya waktu, mata pelajaran tersebut diubah menjadi PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan). Perubahan ini bertujuan untuk menyuburkan praktik-praktik moralitas yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.
Namun, bagaimana hasilnya? Apakah agama dan pelajaran moral benar-benar bersatu padu menghasilkan perilaku masyarakat yang baik?
Toronata Tambun, dalam opini di The Jakarta Post tanggal 15 April 2025 berjudul “Mengapa Korupsi Subur di Tengah Masyarakat Religius?”, menyampaikan bahwa Indonesia dapat memelihara generasi mendatang dengan lebih baik apabila praktik keagamaan tidak hanya dilakukan secara lahiriah, tetapi juga secara mendalam dengan dasar belas kasih.
Bukan sekadar formalitas, tetapi penuh makna.
Bukan hanya normatif, tetapi membentuk karakter yang otentik.
Tulisan tersebut menegaskan betapa pentingnya mempraktikkan religiositas secara jujur dan mendalam.
Bacaan leksionari Minggu ini menuturkan tentang misi utama Yesus. Ia hadir bukan sekadar untuk memperbaiki perilaku moral manusia, tetapi untuk membawa transformasi spiritual yang utuh dan menyeluruh.
Melalui kisah Lazarus yang dibangkitkan dari kematian (Yohanes 11:1–45), disampaikan pesan bahwa Yesus berkuasa atas kehidupan. Dalam iman, dipahami bahwa Ia menghidupkan manusia yang mati karena dosa. Pada hakikatnya, manusia mati karena pelanggaran dan dosa, tetapi Allah menghidupkan manusia bersama-sama dengan Kristus (Efesus 2:1–5).
Injil menyatakan tentang anugerah Allah yang membarui hidup dan perilaku manusia. Kehidupan baru adalah kehidupan yang tidak hidup dalam kedagingan, sebab kedagingan tidak berkenan kepada Allah (Roma 8:8).
Dengan demikian, keselamatan yang dihayati sebagai anugerah Allah—bukan hasil dari perbuatan baik manusia—justru berpotensi menghasilkan pembaruan hidup orang percaya.
Melalui Ibadah Minggu V dalam masa Pra-Paskah, umat diajak untuk memahami makna kehadiran Yesus yang membawa harapan. Dari sana, umat diharapkan menumbuhkan kesadaran bahwa hidup dalam Yesus Sang Mesias adalah hidup yang dipenuhi pengharapan.
(Dian Penuntun Edisi 41)
Tinggalkan Balasan