Renungan Minggu, 7 September 2025
“Mengikut Yesus keputusanku,
Mengikut Yesus keputusanku,
Mengikut Yesus keputusanku,
‘Ku tak ingkar, ‘ku tak ingkar.”
Lirik nyanyian di atas cukup terkenal. Banyak orang Kristen menyanyikan nyanyian tersebut karena liriknya yang sederhana dan notasi musiknya yang mudah untuk dinyanyikan.
Ada cerita menarik di balik lagu tersebut. Cerita dari lagu ini terjadi di Assam, India pada abad ke-19. Sekelompok misionaris Inggris mengunjungi sebuah daerah, dimana sukur terasing tinggal dengan tradisi kanibalisme.
Meskipun banyak yang menolak pesan Injil, satu keluarga berani menerima Yesus Kristus, dan keputusan mereka mempengaruhi keluarga lain di sekitarnya. Namun, kepala suku sangat marah dengan konversi tersebut.
Ia memutuskan untuk mengadili keluarga tersebut sebagai contoh bagi yang lain. Akan tetapi, meski dihadapkan pada hukuman mati, keluarga tersebut tetap teguh pada iman mereka. Keteguhan hati itulah yang menjadi inspirasi lagu tersebut.
Dari cerita tersebut, kita mengetahui ternyata menjadi murid Yesus tidak semudah yang kita bayangkan. Ini berbeda dengan menjadi followers. Pada era media sosial, kata “Followers” tentu bukanlah sebuah kata yang asing.
Jumlah followers yang dimiliki seseorang sangat menentukan apakah ia terkenal di media sosial atau tidak. Semakin banyak followers, semakin terkenal orang tersebut.
Namun, belum tentu pada followers itu benar-benar mengerti orang yang mereka ikuti. Para followers hanya dapat mengenal orang yang mereka ikuti melalui media sosial yang ada.
Berbeda halnya ketika seseorang menjadi murid. Murid (Yun.: mathetes) adalah seorang yang belajar dengan cara tinggal bersama dengan sang guru (Jawa: nyantri). Mathetes bukan hanya sekedar menimba ilmu, melainkan mencari tahu gaya hidup dari sang guru dan mengubah gaya hidupnya menjadi serupa dengan sang guru.
Berikut gambaran ringkas perbedaan antara mengikut (dalam arti followers) Yesus dan murid (dalam arti mathetes) :
| Pengikut (Followers) | Murid (Mathetes) |
| 1. Mengikut di belakang sang guru | 1. Menjadi bagian hidup dari sang guru |
| 2. Menjadi teman | 2. Menjadi “Imitasi” dari sang guru |
| 3. Tidak terikat | 3. Mengikatkan diri kepada sang guru |
| 4. Tergantung pada suasana hati | 4. Berkomitmen untuk mendisiplinkan diri dalam meneladani sang guru |
| 5. Tidak memiliki komitmen | 5. Berkomitmen untuk meneladani sang guru seumur hidup |
(Dian Penuntun Edisi 40)
Tinggalkan Balasan