Renungan Minggu, 14 September 2025
Pada tanggal 1 Desember 1955, seorang wanita Afrika-Amerika bernama Rosa Parks menolak untuk memberikan tempat duduknya kepada seorang pria kulit putih di sebuah bus umum. Ini melanggar peraturan saat itu yang memerintahkan orang kulit hitam untuk memberikan tempat duduk kepada orang kulit putih jika bus penuh. Rosa Parks ditangkap dan kejadian ini memicu protes besar-besaran.
Martin Luther King Jr., yang pada waktu itu merupakan seorang pendeta muda yang berpengaruh dan menjadi pemimipin lokal di Montgomery, terlibat dalam protes tersebut. Dia membantu mengorganisasi aksi diskriminasi rasial di dalam bus. Boikot tersebut akhirnya berhasil dan pada tahun 1956, Mahkamah Agung AS memutuskan bahwa segregasi di dalam bus umum tidaklah konstitusional.
Keberanian Rosa Parks dan perjuangan yang dipimpin oleh Martin Luther King Jr., serta banyak orang lainnya di Montgonery adalah tonggak penting dalam gerakan hak sipil di Amerika Serikat dan telah mengilhami banyak orang di seluruh dunia dalam perjuangan melawan ketidakadilan rasial.
Namun, apakah dengan demikian bentuk-bentuk diskriminasi terhadap kelompok orang-orang tertentu yang dianggap hina kini telah berakhir? Ternyata, sampai saat ini persoalan diskriminasi, penindasan, dan bentuk-bentuk ketidakadilan lainnya masih saja terjadi.
Pada tahun 2012, muncul gerakan “Black Lives Matter” (BLM), sebagai respon terhadap kematian Trayvin Martin, seorang remaja kulit hitam yang ditembak mati oleh seorang warga sipil bernama George Zimmerman di Florida.
Perilaku diskriminatif mungkin saja terjadi dilingkungan sekitar kita. Bahkan, disadari ataupun tidak, kita sebagai gereja terkadang juga terlibat dalam praktik-praktik diskriminasi. Salah satu yang paling terlihat adalah ketidakadilan terhadap mereka yang kita anggap hina dan berdosa.
Kita enggan hanya untuk sekedar menerima orang yang memiliki latar belakang ekonomi yang lemah di dalam kelompok paduan suara kita, atau mempergunjingkan mereka yang anggota keluarganya jatuh dalam dosa, atau hal-hal lainnya sehingga sebuah persekutuan yang diikat di dalam kasih Kristus, kita justru menepikan mereka yang terhilang dan berdosa. (Dian Penuntun Edisi 40).
Tinggalkan Balasan