Ada banyak hal yang dapat membuat seseorang kehilangan ketegaran ketika menghadapi beratnya ujian hidup. Perasaan dikhianati, ditipu, dibohongi, diabaikan, tidak dicintai, atau tidak dihargai sering kali menjadi penyebab seseorang kehilangan semangat, enggan bertahan, dan enggan melangkah.
Berita-berita di media sosial menunjukkan bahwa tidak sedikit orang yang putus asa dan kehilangan gairah hidup. Pada akhirnya, mereka memilih jalan pintas dengan mengakhiri hidup ketika berhadapan dengan kesusahan dan persoalan yang berat. Sebagai umat Tuhan, kita dipanggil untuk memiliki pilihan yang berbeda ketika menghadapi hidup yang tidak mudah, penuh persoalan yang tidak menyenangkan, dan berbagai pergumulan yang berat.
Dalam rangkaian bacaan leksionari minggu sebelumnya, umat diajak untuk mengalami kehadiran dan penyertaan Tuhan yang memberikan rasa aman serta perlindungan di tengah pergumulan hidup. Memasuki rangkaian Minggu Biasa (Ordinary Times) kali ini, umat diajak untuk menghayati kisah Yakub, seruan Pemazmur, dan nasihat Paulus kepada jemaat di Roma.
Yakub menghayati penyertaan Tuhan dalam pergumulannya pada masa pelariannya karena ancaman pembunuhan dari Esau. Daud, dalam pergumulannya, menghayati Allah yang Mahahadir. Sementara itu, Paulus, melalui suratnya kepada jemaat di Roma, menghayati tuntunan dan penyertaan Tuhan dalam setiap pergumulan.
Bahan kali ini menuntun umat Tuhan untuk menyadari bahwa mereka tidak pernah dibiarkan berjalan sendirian di tengah beratnya kehidupan. Ada Tuhan yang hadir di tengah pergumulan hidup umat-Nya. Allah bukan hanya hadir, tetapi juga turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi umat-Nya.
(Dian Penuntun Edisi 42)






