Salah satu cerita rakyat Indonesia yang melegenda adalah kisah “Bawang Putih dan Bawang Merah”. Kisah ini merupakan kearifan lokal yang memperlihatkan konflik saudara yang dipicu oleh rasa iri hati. Bawang Merah menjadi begitu iri hati karena ketidakmampuannya melihat keunggulan Bawang Putih. Ia tidak senang melihat Bawang Putih rajin dan sering mendapat pujian. Dengan perasaan semacam itu, tak jarang Bawang Merah merencanakan sesuatu yang jahat kepada Bawang Putih.
Kondisi yang dihadapi Bawang Merah bisa menjadi cerminan semua orang. Celakanya, rasa iri hati bisa hadir dalam keadaan apa pun dan di mana pun, baik di lingkungan sekolah, kuliah, tempat kerja, gereja, bahkan di rumah. Iri hati bisa tumbuh dari hal kecil. Ketika iri hati dibiarkan, ia akan menjadi racun yang mematikan. Iri hati inilah yang juga tumbuh di hati saudara-saudara Yusuf. Mereka dibutakan kecemburuan sehingga merancangkan sesuatu yang jahat bagi Yusuf. Hidup Yusuf yang dipenuhi cinta seketika jadi malapetaka.
Pengalaman yang dialami oleh Yusuf sangat mungkin terjadi dalam kehidupan setiap orang. Oleh sebab itu, pada Minggu Biasa ini umat diajak untuk berfokus pada bacaan Kejadian 37:1–4, 12–28 dan Mazmur 105:16–22. Melalui kedua bacaan itu, umat bukan hanya akan melihat kehidupan Yusuf dengan saudara-saudaranya, melainkan juga menyaksikan penyertaan Allah yang tidak berhenti pada Yakub, namun terus berlanjut pada Yusuf. (Dian Penuntun Edisi 42)






