Setiap orang, tanpa terkecuali, pasti mengalami pergumulan dalam hidup. Ada pergumulan yang terlihat seperti masalah ekonomi, penyakit, konflik keluarga, luka batin, ketakutan akan masa depan, pertanyaan tentang jati diri, dan berbagai pergumulan lainnya. Pergumulan bisa membuat seseorang merasa lelah, goyah, bahkan mempertanyakan keberadaan dan kasih Tuhan sehingga berakhir pada keputusasaan. Namun, apakah pergumulan harus selalu berakhir pada keputusasaan?
Alkitab mencatat banyak tokoh yang mengalami pergumulan berat, misalnya Yakub dalam Kejadian 32:22–31 dan murid-murid Yesus dalam Injil Matius 14:13–21. Kedua kisah ini memperlihatkan bagaimana Yakub dan murid-murid Yesus menghadapi pergumulan mereka masing-masing. Yakub bergumul dengan Allah di sungai Yabok, sedangkan murid-murid Yesus bergumul karena harus memberi makan ribuan orang.
Tindakan Allah dalam pergumulan yang dikisahkan dalam Bacaan I dan Injil memberi keteguhan hati yang menuntun mereka dalam melanjutkan kehidupannya.
Pada Minggu Biasa Kedelapan Belas ini, perenungan berfokus pada Bacaan Pertama dan Injil. Umat diajak untuk menyelami kisah pergumulan Yakub dan murid-murid Yesus dengan harapan dapat belajar memiliki keteguhan iman kala menjumpai pergumulan yang terasa begitu berat. (Dian Penuntun Edisi 42)





