“Kepedulian seseorang terhadap orang lain itu dapat ditanamkan, ditumbuhkan, dibentuk, dan dilatih. Ada banyak cara untuk melakukan hal tersebut. Beberapa pendekatan mengajarkannya melalui pendekatan behavioristik, yaitu pembentukan tingkah laku melalui pengalaman dan interaksi. Misalnya saja, untuk membentuk tindakan memberi pada seorang anak, anak tersebut harus diajak untuk memiliki aktivitas memberi kepada orang lain. Hal ini dilakukan berulang-ulang sampai akhirnya anak tersebut memiliki perilaku yang terbiasa peduli kepada orang lain.
Pendekatan behavioristik tentunya menolong dalam pembentukan perilaku peduli pada seseorang, hanya saja, pendekatan ini perlu diperkaya dan diperdalam, sehingga perilaku peduli bukan merupakan otomatisasi perilaku yang sudah menjadi kebiasaan. Perilaku peduli perlu dimaknai dalam kaitan dengan nilai-nilai spiritualitas yang bukan hanya mengubah diri tetapi berdampak pada kehidupan di sekitarnya.
Gereja sesungguhnya dapat menjalankan panggilan penanaman dan pembentukan nilai-nilai kepedulian dari aspek spiritualitas serta nilai iman rohaninya. Dengan demikian, kepedulian dapat dimaknai bukan sebatas sebuah perilaku hidup, melainkan sebagai nilai iman orang percaya yang terhubung dengan tujuan, kehendak, dan kemuliaan Allah. Ritual keagamaan dipakai untuk menjadi jalan bagi pembentukan umat akan nilai-nilai tersebut, sehingga umat memiliki kepedulian yang membebaskan hidup orang lain dalam berbagai bentuknya.
Prinsip itulah yang menjadi fokus teks leksionari Minggu ini. Prinsip cinta kasih Allah yang membebaskan dan melibatkan, yang telah dinyatakan dalam perenungan firman Tuhan Minggu lalu, mengajak umat untuk kemudian mengambil bagian dalam prinsip cinta kasih Allah tersebut. Dalam hal inilah, umat belajar memahami bagaimana Allah memakai penetapan ritual keagamaan sebagai pembentukan nilai-nilai kepedulian terhadap sesama, baik terkait kehidupan sosial, ekonomi, maupun perilaku hidup. (Dian Penuntun Edisi 42)






