• Syaloom
  • Kebaktian
    • Jadwal Kegiatan
    • Tata Ibadah
    • Etika Beribadah
  • Sejarah
    • Ini Aku, Utuslah Aku
    • Pos KPK Harapan Indah (Maret 1994 – Maret 1998)
    • Bakal Jemaat (Maret 1998 – Oktober 1999)
    • GKI Harapan Indah (Oktober 1999 – Sekarang)
    • Klasis Priangan GKI Sinode Wilayah Jawa Barat
  • Profil
    • Komisi
      • Komisi Anak
      • Komisi Remaja
      • Komisi Pemuda
      • Komisi Kairos
      • Komisi Wanita
      • Komisi Usia Indah
      • Komisi Musik
    • Visi dan Misi
    • Pengerja
    • Badan Hukum
    • Lokasi
    • Bakal Pos – Jemaat Mandiri GKI Symphony
    • Sekilas Situs
  • Rekening
  • Download
    • Rekap Kidung Jemaat (KJ)
    • Rekap Nyanyikanlah Kidung Baru (NKB)
    • Rekap Pelengkap Kidung Jemaat (PKJ)
    • Video Kegiatan
  • Warta-Liturgi Jemaat
  • Live Streaming
Skip to content
GKI Harapan Indah

GKI Harapan Indah

Jalan Taman Kenanga Blok HA Nomor 4 – 5, Kota Harapan Indah, Bekasi 17131, Jawa Barat, Indonesia

  • Syaloom
  • Kebaktian
    • Jadwal Kegiatan
    • Tata Ibadah
    • Etika Beribadah
  • Sejarah
    • Ini Aku, Utuslah Aku
    • Pos KPK Harapan Indah (Maret 1994 – Maret 1998)
    • Bakal Jemaat (Maret 1998 – Oktober 1999)
    • GKI Harapan Indah (Oktober 1999 – Sekarang)
    • Klasis Priangan GKI Sinode Wilayah Jawa Barat
  • Profil
    • Komisi
      • Komisi Anak
      • Komisi Remaja
      • Komisi Pemuda
      • Komisi Kairos
      • Komisi Wanita
      • Komisi Usia Indah
      • Komisi Musik
    • Visi dan Misi
    • Pengerja
    • Badan Hukum
    • Lokasi
    • Bakal Pos – Jemaat Mandiri GKI Symphony
    • Sekilas Situs
  • Rekening
  • Download
    • Rekap Kidung Jemaat (KJ)
    • Rekap Nyanyikanlah Kidung Baru (NKB)
    • Rekap Pelengkap Kidung Jemaat (PKJ)
    • Video Kegiatan
  • Warta-Liturgi Jemaat
  • Live Streaming

Renungan

Allah Mencipta, Firman Mengubahkan, Roh Menghidupkan

- 13 Juni 2014 | 13 Juni 2014 - admin 3 minutes read

Renungan Minggu, 15 Juni 2014 – Trinitas

Dalam tradisi kekristenan barat, doktrin trinitas pertama kali dikenalkan frasa latin, dicetuskan oleh Tertulianus pada tahun 200 “una substantia – tres personae (satu substansi – tiga pribadi)”. Penyataan ini mengusung ide tentang kekristenan yang mengimani penyataan Allah yang satu, tidak terpisahkan, memiliki substansi ilahi, dalam tiga “cara berada” pribadi. Juga sebaliknya, bahwa tiga pribadi itu berbeda satu sama lain, tetapi mereka satu dalam substansi ilahinya. Kritik pada pendekatan ini ialah bahwa pemahaman yang sedemikian dapat jatuh ke dalam modalisme (tiga pribadi itu dilihat sekadar moda dari keberadaan ilahi), dan monarkianisme (terdiri dari unit-unit dengan tingkatan).

Bapa Gereja Kappadokian dan penerus mereka dalam kekristenan timur, berpendapat sebaliknya, bahwa dasar keberadaan Allah sedari kekal sampai kekal ialah triuni (triune). Titik berangkatnya, menurut mereka, bukan ketunggalan (unity) Allah, tetapi ketri-tunggalan (tri-unity). Meski mereka berupaya untuk menghindari susunan hierarkis dalam trinitas, gagasan mereka bahwa Sang Bapa sebagai prinsip tertinggi (supreme principle) atau arche, melahirkan masalah, sebab menjadikan Sang Anak dan Roh Kudus menjadi bergantung pada Sang Bapa. Terhadap tuduhan subordinasi terhadap Sang Anak dan Roh Kudus itu, mereka menanggapi, bahwa perbedaan antara tiga pribadi itu terletak hanya pada ranah hubungan antara satu dengan yang lainnya, dan kemudian menegaskan bahwa (sebagaimana dikatakan Athanasius) persekutuan ilahi dari pribadi-pribadi itu -satu dengan yang lain- begitu lengkap dan utuh, sehingga yang satu dapat dikatakan tinggal sepenuhnya pada yang lain, dalam pertukaran yang utuh dalam sebuah gerak kehadiran ilahi yang hidup.

Gagasan terakhir ini menjadi puncak dari teologi trinatarian bapa-bapa gereja, yang berupaya menghindari sub-ordinasianisme dan tri-teisme. Prinsip ini kemudian diangkat oleh Agustinus dalam studi monumentalnya, De Trinitatis, yang ditulis antara tahun 354-419. Ia menulis: “Setiap [pribadi-pribadi ilahi] ada dalam setiap, semua ada dalam setiap, setiap ada di dalam semua, semua di dalam semua, dan semua adalah satu.” Namun, di kemudian hari, Yohanes dari Damaskus-lah (675-749) -seorang teolog dari kekristenan timur- yang mencetuskan kata perichoresis, sebagai ungkapan teknis untuk menggambarkan kesalingterhubungan (interpenetration) mutual dari tiga pribadi itu. Kala trinitas dimengerti secara perikoretik, maka Sang Bapa hadir dalam Sang Anak, Sang Anak dalam Sang Bapa, dan mereka berdua dalam Roh Kudus, sebagaimana Roh Kudus hadir dalam Sang Bapa dan Sang Anak. Dalam prinsip ini, keberadaan ilahi yang dinamis itu tidak dapat dipahami sekedar sebagai satu subjek saja, tetapi hidup sebagai sebuah persekutuan yang hidup (koinonia) dari tiga pribadi yang saling berhubungan satu dengan yang lain, hadir satu di dalam yang lain, dan bertindak dalam keserempakan.

Apa yang dijelaskan di atas acapkali dipahami sebagai trinitas yang imanen (immanent trinity), “sisi dalam” dari tiga pribadi, “sisi ontologis”, tentang “what God is”. Hal ini acap “dibedakan” dengan apa yang dinamakan ekonomi trinitas (economic trinity), tentang “what God does”, dalam cara bagaimana tiga pribadi itu menyatakan aktivitasnya di dunia. Untuk menghindari kesalahpahaman adanya banyak trinitas, Karl Rahner mencetuskan bahwa “ekonomi trinitas ialah trinitas yang imanen, dan sebaliknya.” Dijelaskan lebih lanjut bahwa penyataan Allah Trinitas dalam sejarah ialah penyataan diri dari Allah, namun bukan penyataan yang lengkap dari Allah. Dalam inkarnasi, Sang Anak hadir kepada dunia tidak dalam kemuliaan-Nya yang utuh, tetapi dalam bentuk kenotik (pengosongan diri). Dalam inkarnasi-Nya, Ia mensubordinasikan diri-Nya sendiri di bawah Sang Bapa, dan merendahkan diri-Nya dalam kematian, dan, dengan melakukan itu, Ia menegaskan sesuatu tentang ketritunggalan Allah, yang dalam keadaan seperti itu pun Ia tetap menjadi Sang Anak yang ilahi, yang setara dengan Allah dalam keilahian, kemuliaan dan kuasa. (Dian Penuntun edisi 18).

Bacaan Alkitab:

  1. Kejadian 1:1-5, 26-31
  2. Mazmur 8
  3. 2 Korintus 13:11-13
  4. Matius 28:16-20

Nyanyian Jemaat:

  1. KJ 242:1-3
  2. PKJ 120:1-3
  3. KJ 37B:1-3
  4. KJ 387:1,2
  5. PKJ 146
  6. PKJ 165:1,2

Navigasi pos

Warta Jemaat Minggu, 8 Juni 2014
Kebaktian Minggu, 15 Juni 2014

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

  • YouTube
  • Foto
  • Warta Mingguan
    • Penatalayanan Kebaktian
    • Persekutuan
    • Renungan
    • Ringkasan Kegiatan
    • Statistik Kegiatan
    • Warta Jemaat
  • Nyanyian Jemaat
    • Kidung Jemaat (KJ)
    • Nyanyikanlah Kidung Baru (NKB)
    • Pelengkap Kidung Jemaat (PKJ)
  • Warta Tahunan
    • Bulan Keluarga
    • HUT GKI Harapan Indah
    • HUT PPK Tabitha
    • Jadwal Paskah
    • Jadwal Natal
    • Majalah Talenta

Warta dan Liturgi Jemaat

Warta Jemaat, Minggu 18 Oktober 2026
Liturgi, Minggu 18 Oktober 2026
Liturgi, Minggu 11 Oktober 2026

Tulisan Terakhir

  • Warta Jemaat, Minggu, 18 Oktober 2026
  • Belajar Memilih
  • Warta Jemaat, Minggu, 11 Oktober 2026
  • Belajar Kembali
  • Warta Jemaat, Minggu, 04 Oktober 2026
  • Belajar Mendengar
  • Kerjakanlah Keselamatanmu!
  • Warta Jemaat, Minggu, 20 September 2026
  • Allah Itu Baik
  • Warta Jemaat, Minggu, 13 September 2026
  • Instagram
  • YouTube
  • Facebook
  • Spotify
  • TikTok
  • Mail
myGKIHI+

Aplikasi myGKIHI+

Temukan di Google Play Unduh di App Store
Powered by WordPress Theme: BlogX by wpthemespace.com