Renungan Minggu, 29 Maret 2026 (Pra Paskah VI / Palmarum)
Pada minggu ini, gereja merayakan dua perayaan sekaligus, yaitu Minggu Palma (Palmarum) dan Minggu Sengsara. Keduanya dapat dipahami secara terpisah, tetapi juga sebagai satu kesatuan dengan alur yang saling terhubung.
Minggu Palma menggelorakan semangat kegembiraan. Dalam liturgi, umat biasanya mengibarkan daun-daun palem sebagai simbol sukacita. Melalui tindakan ini, umat membayangkan kisah Yesus yang memasuki Yerusalem dan disambut sebagai Raja atau Mesias yang dinantikan. Namun, menariknya, Yesus justru memasuki Yerusalem untuk menyongsong penderitaan. Oleh karena itu, kegembiraan tersebut tidak berlangsung lama.
Di Yerusalem, sambutan terhadap Yesus kemudian berubah drastis. Ia yang semula dielu-elukan sebagai Raja, berubah menjadi pesakitan yang menerima teriakan, “Ia harus disalibkan.”
Dalam Injil Matius, peristiwa-peristiwa yang dialami Yesus selalu dikaitkan dengan rujukan dari Perjanjian Lama. Dengan mengutip Perjanjian Lama, penulis Injil Matius hendak menegaskan bahwa Yesus adalah Mesias, Sang Penyelamat yang telah lama dijanjikan.
Cara pemberitaan seperti ini sangat penting bagi orang-orang Yahudi. Injil Matius memang memiliki corak yang kuat bernuansa Yahudi dan ditujukan kepada mereka yang berlatar belakang Yahudi. Orang Yahudi membutuhkan bukti bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan, dan bukti tersebut disampaikan oleh penginjil Matius sesuai dengan pola pikir mereka.
Dalam menghayati Minggu Palma dan Minggu Sengsara, umat Tuhan diajak untuk melihat bahwa janji-janji tentang kehadiran Mesias telah digenapi dalam diri Yesus Kristus. Iman kepada Yesus sebagai Sang Mesias mengingatkan setiap orang percaya untuk hidup taat kepada Bapa dalam keseharian.
Kebangkitan yang melampaui realitas dunia hanya dapat terjadi ketika umat bersedia melampaui kemuliaan duniawi. Di tengah semangat dunia yang mengejar kemuliaan, Yesus justru memberi teladan dengan melampauinya melalui ketaatan kepada kehendak Bapa. Sengsara dan kehinaan menjadi jalan yang ditempuh-Nya untuk menghadirkan keselamatan bagi dunia.
Melalui jalan penderitaan yang dijalani Yesus, nyatalah kemuliaan dan kemesiasan-Nya.
(Dian Penuntun Edisi 41)







